Pada hari sabtu 10 Maret 2017, saya dan teman-teman D3 Kepariwisataan UGM mengunjungi Desa Wisata Ngringinan, Bantul, DIY. Kami mengunjungi 2 tempat bersejarah yakni Museum Belanda dan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 1 jam dari Sekolah Vokasi UGM menggunakan motor. Kami berkendara beriringan untuk menghindari kawanan kami tersasar. Perjalanan berlangsung sangat seru dan ramai.
Sesampainya di Desa Wisata Ngringinan, kami disambut oleh Pak Kun selaku pengelola Desa Wisata tersebut. Beliau pun menceritakan sejarah desa tersebut. Beliau menyampaikan bahwa desa ini dulu tempat tinggal kaum Belanda sehingga terdapat 7 peninggalan nya yakni pabrik gula, irigasi, jaringan transportasi kereta, sekolah, pasar, rumah sakit, gereja hingga candi. Iapun menyampaikan bahwa Desa Ngringinan ini memiliki keunikan lokal yakni adanya produksi makanan khas yakni madumongso.
Desa Wisata Ngringinan telah legal menjadi salah satu desa wisata di kabupaten Bantul pada tanggal 11 Februari 2017. Desa ini telah cukup menarik perhatian masyarakat dengan daya tarik yang dimilikinya yakni Gereja Hati Tuhan Yesus Ganjuran dan Museum Belanda. Kebanyakan wisatawan datang untuk berziarah. Museum Belanda yang menampilkan beberapa foto pada zaman dahulu dinilai menjadi suatu daya tarik tersendiri. Disana pun kami dapat melihat peradaban masa lampau.

Setelah pak Kun menyampaikan beberapa poin, giliran Bu Andriayani menjelaskan lebih mendalam mengenai madumongso. Madumongso adalah makanan tradisional yang terbuat dari tape ketan yang diolah bersama dengan gula jawa, santan, pandan, dna gula pasir. Bu Andriayani menyampaikan bahwa terdapat 3 keluarga yang aktif memproduksi madumongso di desa ini. Iapun memberi tahu tahap-tahap pembuatan madumongso yakni
- Kukus tape ketan hingga matang
- Beri ragi dan diamkan selama 2 hari
- Setelah 2 hari, adonan dicampur dengan enten dan dimasak sekitar dua jam
- Setelah matang cetak berbentuk bulat
- Madumongso siap dikemas dan disajikan

Setelah mendengarkan pemaparan oleh Ibu Andriayani, kamipun segera bergegas untuk mengunjungi gereja. Gereja ini memiliki arsitektur yang unik yakni berbentuk pendopo. Di tempat ini kami bisa merasakan atmosfir jawa yang sangat kental mulai dari arsitektur hingga interior. Pendopo ini sangat luas sehingga dapat menampung cukup banyak orang. Hal unik yang dimiliki gereja ini yakni terdapat candi di daerah belakang kawasan. Candi ini terkenal dikalangan peziarah dan banyak pula orang mengantri untuk bisa masuk dan berdoa didalam candi. Kamipun menikmati suasana damai dan tenang selama berada dikawasan gereja. Keharmonisan sangat saya rasakan ditempat ini. Kamipun berkeliling sambil mendengarkan cerita dari Pak Kun.
Tak terasa sudah dipenghunjung acara dan kami harus bergegas pulang. Semoga kami mahasiswa dari Kepariwisataan UGM dapat memberikan bantuan berupa inspirasi bagi Desa Wisata Ngringinan kelak.